5 Fakta Unik Tentang Papua

5 Fakta Unik Tentang Papua

1.Penduduk Papua yang Bermacam-macam


Keberagaman suku diPapua

 Menurut sebuah data, jumlah penduduk asli Papua adalah 52%, sedangkan non-papua adalah 48%. Jumlah ini membuat perbandingannya hampir fifty-fifty, karena itulah budaya Papua sangat beragam.
Jika kamu tinggal di Papua, kamu akan memahami sedikit budaya Sulawesi, Maluku, Jawa, dll. Karena penduduk yang berasal dari daerah itu sangat banyak, daerah Papua dibagi menjadi 3 provinsi dengan beberapa kabupaten. Kerukunan beragama pun sangat terasa di Papua, toleransi dan tenggang rasa antar masing-masing penganutnya membuat Papua menjadi tempat yang kondusif untuk beribadah.

2. Sempat Menjadi Daerah Perang Saat Perang Dunia 2

Sisa peninggalan perang dunia 2 di Papua

Tidak banyak orang yang tahu bahwa Papua sempat menjadi daerah perang Pasifik di tahun 40an. Pulau Papua yang sangat besar itu menjadi rebutan antara tentara sekutu (yang dipimpin Amerika) dan Jepang.Banyak sekali bekas-bekas peninggalan kendaraan perang dan senjata di Papua, yang menjadi saksi bisu sejarah di sana. Kalung pengenal tentara Amerika yang meninggal di sana menjadi souvenir unik bagi pemuda Papua di tahun 90an. Mereka menemukannya dengan cara menggali tanah.

3.Batik

Batik Papua

Papua juga punya batik loh. Biasanya coraknya khas dengan kekayaan alam Papua seperti burung cenderawasih, ukiran patung, dll.Teknik pembuatannya pun sudah modern, harganya cukup relatif. Biasanya batik ini digunakan di sekolah-sekolah atau kantor pemerintah.

4.Noken

Tas tradisional Papua

Noken adalah sebuah tas unik khas Papua yang terbuat dari benang atau anyaman kulit kayu. Menjadi perlengkapan “wajib” bagi orang-orang di sana untuk menenteng bawaan.Biasanya hasil kebun, kayu, dll. Wanita-wanita Papua biasanya menggunakan Noken di kepala mereka. Tas ini diakui Unesco sebagai warisan dunia asli Papua.

5.Salju

Gunung Puncak Jayawijaya

Papua punya salju! Tepatnya berada di daerah puncak Jaya di pegunungan Cartenz. Puncak ini adalah puncak tertinggi di Indonesia. Sudah banyak ekspedisi pecinta alam yang berhasil naik sampai ke atasnya dan menikmati salju di daerah khatulistiwa.

Sumber:bombastis

Apakah Indonesia Benua Atlantis yang Hilang ?

Apakah Indonesia Benua Atlantis yang Hilang ?

Buku Tentang Atlantis 

Gambaran tentang Benua Atlantis sepenuhnya bersumber dari Catatan Plato (427 – 347 SM) dalam dua karyanya, yaitu Timaeus dan Critias. dalam bukunya yang diberi judul Timaeus, Plato bercerita sangat menarik tentang Atlantis, Berikut ini kutipannya:


“Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.”.

Gambaran Peta buatan Prof Arysio Santos


Plato menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Prof. Arysio Nunes dos Santos, seorang atlantolog, geolog, dan fisikawan nuklir asal Brazil, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia mempublikasikan hasil penelitiannya dalam sebuah buku : Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.




Gambaran Peta Atlantis


Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk / posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni :


  • pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia.


  • Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.



  • Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Sumber:saripedia